Menurut Aldrich (2005) Schumpeter ekonom yang pemikirannya banyak menjadi sumber kajian tentang kewirusahaan, telah menulis kewirausahaan dengan pendekatan ilmu sosiologi terutama dalam bukunya yang pertama, yaitu ekonomi pembangunan (1912). Ia memisahkan orang yang berbakat dengan yang tidak berbakat, dan dalam pembahasannya dinyatakan hanya orang berbakat yang mampu menjadi wirausaha ungguh. Mereka itu juga memiliki ciri jiwa dan keterampilan dalam memimpin. Selanjutnya dalam buku keduanya, yaitu Economics Handbook (1928) pembahasan tentang kewirusahaan hanya difokus kan pada pembahasan fungsi kewirausahaan saja.

Akibatnya orientasi pemba hasan yang dilakukan lebih terarah pada konsepnya di banding dengan mem bahas ciri (kepribadian) dan kewirausahaannya. Dinyatakan bahwa kewira usahaan erat berkaitandengan aspek menghasilkan kombinasi baru dalam mengolah bahan dan kekuatan yang ada. Pembahasan tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh wirausaha itu masih signifikan sampai saat, sehingga konsep kewirausahaan sendiri masih terus berkembang. Hal itu juga didukung oleh pernyataan Swedberg (2000), yang menunjukan bahwa tidak ada seorangpun yang terus menerus berstatus sebagai wirausaha, kecuali pada saat yang bersangkutan sedang melakukan kegiatan yang inovatif. Apakah hal ini mengindikasikan adanya status wirausaha dalam praktek yang memiliki siklus kehidupan (terlahir – tumbuh – dewasa – statis dan kembali menurun atau mampu tumbuh kembali)?

Sebagaimana diketahui pernyataan tersebut muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Schumpeter bahwa sudah sepantasnya wirausaha ditempatkan dalam lingkup sosial dan sejarahnya, yang menunjuk pada terkaitnya masalah perilaku wirausaha sebagai topik pembahasan dari banyak kajian yang dilakukan saat itu. Apa kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian tersebut, adalah bahwa sejak awalnya masalah kewirausahaan dan wirausaha mempunyai faktor kritis yang banyak tercakup dalam aspek sikap dan perilaku, yang diperlukan untuk mendukung upaya maupun tindakannya dalam melakukan kegiatan usaha atau berbisnis. Dalam hubungan itu kita bisa belajar dari hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat tentang kewirausahaan. Kajian itu memakai pengertian yang luas tentang kata .wirausaha. itu sendiri. Banyak peneliti mencoba mengelaborasi kajiannya dengan mengadopsi fokus-fokus tertentu dalam lingkup kata wirausaha, sebagai wujud pelaku usaha atau bisnis.

 

  • Fokus Pertama, kata wirauasaha dianggap memiliki kaitan erat dengan aspek partumbuhan dan kapitalisasi yang tinggi, sehingga bisnis atau usaha yang akan dikembangkan seorang wirausaha diharapkan memiliki potensi menghasilkan output tinggi apabila dibanding denganusaha yang dibangun oleh orangorang biasa (Carland, 1984). Artinya para peneliti tersebut telah meletakkan pengertian wirausaha sebagai seorang yang dengan kemampuan kewirausahaannya dapat memanfaatkan potensi dirinya untukmewujudkan usaha yang memiliki tingkat pertumbuhan dan kapitalisasi modal tinggi. Tentu saja hal itu terjadi dalam masing-masing kelas usahanya.
  • Fokus Kedua, bahwa kata wirausaha mempunyai kaitan dengan pengertian pelaksanaan kegiatan inovatif dan pengelolaan proses secara kreatif, dalam rang kaian menemukan produk dan pasar baru. Hal mana dengan jelas telah menunjukkan penggunaan paradigma dan pola pikir serta perilaku kreatif, di samping sikap peka pada kondisi lingkungannya, sehingga akhirnya mampu dengan cermat mengenali atau menemukan berbagai peluang atau kesempatan usaha. Semuanya dimaksudkan untuk dapat dimanfaatkan oleh organisasinya maupun oleh kegiatan usahanya. Jadi setiap ada kata upaya pembaruan maka sebenarnya kita sedang membicarakan masalah wirausaha.
  • Fokus Ketiga, terkait dengan katawirausaha yang mengandung arti akan adanya pengenalan tentang peluang potensial sebagai jantung dalam konsep kewirausahaan. Pengembangan konsep kewirausahaan pada dasarnya berhubungan erat dengan pembahasan tentang teori strategi bisnis dan evaluasinya, yang terkait dengan masa depan yang penuh ketidakpastian. Untuk itu kajiannya dipusatkan untuk mengenali peluang yang muncul dalam setiap periode sebagai sarana, untuk diolah dan bertahan dalam tahap kehidupannya. Ke depan, kemampuan itu diproyeksikan semakin meningkat kualitasnya.
  • Fokus Keempat, orientasi kajian terkait dengan masalah organisasi baru, yang keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana suksesnya seorang wirausaha mengelola organisasi bisnisnya. Pengelolaan organisasi berarti pengelolaan sejumlah komponen yang membangun organisasi bersangkutan, dan untuk itu diperlukan pengenalan tentang faktor kritisnya. Semua itu tidak lain dimaksud agar dapat menghasilkan keluaran (output) dari sejumlah masukan yang diperoleh (umumnya tidak lengkap). Karena itu dalam aplikasi kegiatan pengorganisasiannya, diperlukan keterampilan atau kompetensi khusus dalam menetapkan sasaran, melakukan mobilisasi sumberdaya yang tersedia dan dengan tepat serta cermat melakukan pengelolaan atas kendala yang ada, di samping melakukan pertukaran sumberdaya dengan pihak luar organisasi.

Ringkasnya dapat ditunjukkan ada keterkaitan antara wirausaha, kewirausahaan & organisasi bisnisnya, kembali pada definisi wirausaha. Melalui kemampuan dan kompetensinya di samping semangat yang dimilikinya, yaitu bahwa setiap wirausaha akan berupaya secara maksimal menemukan berbagai peluang. Diharapkan hal tersebut akan dapat membantunya melakukan kegiatan pengolahan sumberdaya yang tersedia secara efektif, dengan memakai berbagai sarana pendukung, agar dapat menghasilkan produk atau output secara inovatif dan kreatif. Semua itu terkait dalam lingkup peluang yang tersedia. Perbedaan terjadi karena keragaman dalam kemantapan atau bobot komponen terkait. Semua itu berhubungan dengan upaya menghasilkan nilai tambah yang penting dalam kaitan menyumbang pada dinamika dan kualitas perekonomian suatu Negara. Karena itu pula jumlah wirausaha dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk menilai kualitas dan dinamika organisasi perekonomian suatu Negara.

Menurut Harvie (2003), dinyatakan bahwa para wirausaha itu dengan bisnisnya telah memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi, di samping kemampuannya menyerap tenaga kerja khususnya. Hal itu ditemukan melalui pengamatan di negara Cina, Vietnam dan Indonesia paling tidak dalam 5 tahun terakhir dalam pada itu secara bersamaan wirausaha yang ada masih belum optimal kinerjanya, pada hal jumlahnya lebih besar dibanding dengan wirausaha yang ada di negara maju. Menurut perhitungannya maka, dengan benchmark 20 orang per satu wirausaha, untuk Indonesia dengan penduduk tercatat saat itu 203.4 juta diperlukan 10,2 juta wirausaha. Sementara saat yang bersamaan jumlah wirausaha ada 2,0 juta maka dibutuhkan tambahan 8,2 juta wirausaha baru agar mampu menjadi entrepreneurial engine bagai perekonomian nasional. Demikian kritisnya posisi wirausaha itu, maka kebutuhan akan tersedianya sejumlah wirausaha baru, yang handal, tangguh serta ungggul pada gilirannya akan menjadi kebutuhan yang memang perlu diisi melalui perencanaan yang jelas dan langkah – langkah yang konkrit serta konsisten dalam penyelenggaraannya. Semua itu akan terkait dengan tersedianya populasi wirausaha berpotensi yang memiliki kompetensi melakukan perubahan sikap dan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan guna mendukung kegiatan pengelolaan usaha barunya.

Selanjutnya diperlukan kejelasan dalam petunjuk operasional yang disusun bagi para pembina di lapangan, karena mereka menjadi pelaku operasional khususnya untuk dapat membantu mengembangkan model yang dapat mendorong tumbuhnya wirausaha baru di wilayahnya. Hal ini juga dapat menjadi faktor kritis dalam penumbuhan wirausaha baru, sehingga diperlu kan langkah:

  1. mewujudkan kesepahaman tentang definisi wirausaha baru dan perbedaannya dengan pengertian unit usaha baru;
  2. menjelaskan kepada para pembina (pelaku teknis) di lapangan tentang macam kegiatan yang harus dilakukan serta batasan operasional dari rangkaian kegiatan itu.

Untuk itu perlu ditetapkan pula apakah pencapaian wirausaha baru hanya sampai pada menghasilkan wirausaha baru saja (handal) atau sampai pada wirausaha baru yang unggul. Karena untuk mewujudkan kelas wirausaha baru tersebut diperlukan tambahan kegiatan berupa aplikasi program pendampingan.

Uraian itu kembali menunjuk pada tidak mudahnya menumbuhkan wira usaha baru dengan ciri dan sikap seperti yang diuraikan di muka. Para ahli kemudian mencoba mencari solusinya, dan kemudian memerinci komponen yang terkait dengan upaya penumbuhan wirausaha baru. Sementara itu dalam buku Pedoman Pengembangan Kewirausahaan: Basic Penumbuhan Wirausaha Baru, yang diterbitkan oleh Deputi Pengembangan Sumberdaya Manusia, kementerian KUKM, tercatat ada bahwa dalam skema pola pemikiran pembangunan UMKM terdapat faktor kritis lain, yang secara makro mempengaruhi keberhasilan menumbuhkan wirausaha baru, yaitu aspek-aspek:

a)      keteladanan pimpinan;

b)      pendidikan mental, serta

c)      kesempatan dan pembinaan,

mengingat upaya penumbuhan wirausaha baru dianggap sebagai bagian dari upaya penumbuhan kultur baru dalam berusaha atau berbisnis, melalui pembentukan karakter bangsa yang memiliki semangat kerja keras dan kemandirian di samping juga harus ulet. Itulah gambaran masalah makro yang terkait dengan pembangunan karakter bangsa, dan mempunyai dampat jangka panjang dari tersedianya sejumlah besar wirausaha yang mendominasi kegiatan perekonomian nasional. Karena itu buku tersebut menunjukkan klasifikasi wirausaha, dari yang handal (memiliki ciri dasar), yang tangguh (berkemampuan handal ditambah dengan ciri kemampuan lainnya) dan yang unggul (berkemampuan tangguh dengan ciri kemampuan lainnya).

Uraian tentang ciri-ciri dari wirausaha yang diharapkan, dapat menjadi petunjuk pembinaan, yaitu untuk dapat mengenali training needs yang menjadi dasar pengembangan programnya. Tetapi apapun juga desain program yang akan dilakukan, namun indikator sikap dan perilaku dasar yang khas bagi seorang wirausaha tetap menjadi faktor kritis utama dalam proses menumbuhkan wirausaha baru.

Sumber :